Teman Tapi Musuh





Bel istirahat telah terdengar. Seorang siswa yang rasanya udah jadi penghuni tempat ini pun terlihat sedang berdiri di depan kelas. Pandangannya lurus kedepan. Wajahnya pun terlihat datar, tak ada sedikit pun yang terulas di wajah tampannya. Itu gue.

Gue sekarang kelas 3 di SMK BINTANG di Tangerang, gue masuk kedalam jurusan Akuntansi. Makin absurd aja pembelajaran ini. Gurunya bikin ngantuk. Meterinya makin berat. Komplit!
Belajar buku besar aja belum selesai, ilmunya belum mengendap di otak tapi udah dihajar sama siklus akuntansi. Serasa dikejar setan, takutnya ilmunya kayak setan juga. Cuma penampakan sementara. Emang sih, nggak pernah ada batasan untuk seseorang terus belajar. Tapi tolong, otak gue overheat. Bisa mengepul asap dari atasnya.

Di kelas akuntansi ada sekitar 30 siswi dan 5 siswa. Lo bisa bayangin gue dan empat temen cowok lainnya adalah minoritas dalam minoritas dalam minoritas, minoritas pangkat 3 dan nggak heran kami berlima selalu jadi rebutan 30 wanita single di kelas. Eh, nggak semuanya single sih ada yang udah taken beberapa. Tapi tetap yang udah taken nggak mau kalah saing sama yang jomblo. duh, kasihan jomblo selalu tereliminasi.

Baiklah, diantara kita berlima gue paling akrab sama yang namanya…. Sebut aja dia MIM.
Banyak adek kelas yang bilang kalo kita berdua mempunyai kemiripan yang sama, menurut gue pribadi gue sama dia nggak mirip. Kita lahir dari ibu dan bapak yang berbeda dan pacar yang juga tentu beda. Jadi dimana letak kemiripannya, wahai adek-adek kelasku tercinta?

Sampe gue pun jadi bahan bullying para adek kelas di BBM, entah apa tujuan mereka nge-bully gue Cuma gara-gara seutas status “MIM lagi, MIM mulu, MIM terus. Gue sama dia mirip darimana sih.” Seketika itu, langsung dibanjiri oleh chat dari mereka. Dibanjiri? Nggak se-famous itu sih, ada beberapa 4-5 chat yang masuk. Karena mungkin mereka tau kalo itu buat mereka. 

Oke, gue paham. Mungkin karena faktor gue dan MIM yang terlalu akrab, sehingga mempunyai segi pandang yang nggak jauh berbeda. Adek kelas taunya temen gue dia doang dan mungkin karena mereka sering ngeliatnya gue bareng sama dia terus. Jadi mereka kalo nanyain pasti pake kalimat “kak, temen kakak yang mirip banget sama kakak siapa sih namanya?” “ituloh, yang sering sama kakak terus.”

Gue sama MIM lumayan cukup akrab, kita berdua mungkin udah kayak saudara sendiri walau nggak satu ibu dan bapak. Jadi nggak aneh kalo gue sama MIM udah saling kenal satu sama lain. Tapi itu dulu, kenapa itu dulu? Gue nggak tau, karena dulu gue belum lahir! *merdeka*

Namun semua berubah setelah negeri api menyerang. Gue pun berselisih sama dia dan sampe sekarang masih berlanjut. Bingung sebenernya, padahal gue mikir “masa iya musuhan sama temen sekelas.” Gila, nggak lucu kan? Tapi nyatanya malah keliatan absurd “Temen Tapi Musuhan” kan bisa damai? Udah gue coba, tapi dia yang nggak pernah mau damai. Yaudah jadinya begitu “kelucuan dalam permusuhan”

Contoh menarik yang sering bikin gue nggak abis pikir. Pas papasan sama dia sama - sama pasang muka datar, dalam hati masing-masing berbicara “songong banget itu orang.”

Contoh lainnya, gue ataupun dia nggak bakal berani nyamperin kalo gue ataupun dia lagi ngobrol sama temen lain. Entah, emang sama-sama kampret!

Contoh berikutnya, sama-sama nggak jelas mau ngapain karena keterbatasan ruang lingkup. Karena emang begitu kalo musuhan, bikin sempit dunia. Gue kesono, dia kesono, dia kesini, gue kesini. Dalam hati masing-masing “dia lagi, dia mulu, dia terus.” Terus aja begitu sampe kiamat.

Contoh selanjutnya, gue udah punya pacar tapi dia masih tetap jomblo. Dan mau kayak gimana lagi tetap gue yang menang :P

Temen Tapi Musuh, ini adalah salah satu ke anehan dunia. Tapi katanya sih, sahabat sejati adalah musuh yang tangguh. Huaaah, berantem yuk! *langsung ngilang* :))

2 comments

Banyak yang kayak gitu :) Ngakunya temen tapi nusuk dari belakang.

www.fikrimaulanaa.com

Reply

Post a Comment